Cara Membuat dan Mengedit Video Menggunakan Movie Maker
Hey teman-teman, Buat kalian yang tertarik dan ingin belajar membuat video bisa mengawali belajar menggunakan aplikasi video editor yang sederhana dan mudah dioperasikan. Contohnya, Windows Movie Maker. Dengan aplikasi Movie maker kamu bisa membuat video dari beberapa gambar atau foto, bisa juga ditambahi dengan koleksi musik, kalian juga dapat menambahkan efek transisi di video. Dan juga bisa menggambungkan beberapa video menjadi satu.
Yang saya akan Tulis adalah bagaimana cara membuat Video dengan menggabungkan beberapa gambar, menyisipkan evek transisi dan ditambahkan menggunakan musik.
Cara membuat video :
1. Buka Aplikasi Windows Movie Maker
2. Mengambil beberapa gambar yang akan dijadikan video. Caranya klik Import Pictures
3. Setelah jendela Import File tampil seperti di samping, pilih beberapa gambar sekaligus. Cara memilih gambar sekaligus dengan bantuan tombol Crtl pada keyboard kamu, (klik pada gambar ke 1, kemudian tekan tombol crtl lalu gambar kedua, ketiga dan seterusnya). kemudian jika sudah dipilih gambarnya lanjutkan dengan klik tombol import.
4. Di Tasks Window Pilih gambar lalu CTRL+A untuk memasukkan semua gambar pada story board atau timeline klik kanan lalu add to timeline setelah itu Di task window pilih gambar macan kemudian Ctrl+A untuk memilih otomatis semua gambar.
5. Tambahkan Video Transition
a. secara manual pilih video transisi yang ada di task window kemudian drag ke story board satu persatu
b. pilih semua gambar yg ada di storyboard (gunakan Ctrl+A untuk memilih otomatis semua gambar)
Klik kanan di video transitions yang ada di task window pilih add to storyboard (lihat gambar langkah 4)
• secara manual pilih video transisi yang ada di task window kemudian drag ke story board atau timeline satu persatu
• Secara otomatis klik gambar lalu CTRL+A pilih video transisi kemudian klik kanan lalu add to stroryboard
Kendala Implementasi TIK Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia
Kendala Implementasi TIK Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia
Pendahuluan
Di era teknologi sekarang ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa pengaruh terhadap bidang pendidikan dalam proses pembelajaran. Adanya internet memungkinkan kita untuk belajar kapan dan di mana saja dengan lingkup yang sangat luas. Misalnya, dengan fasilitas email, chatting, e-book, e-library dan sebagainya, kita dapat saling berbagi informasi tanpa harus bertatap muka langsung dengan sumber informasi tersebut. Karena semua informasi yang kita inginkan dapat kita peroleh hanya dengan mengakses internet.
Untuk memperbaiki mutu pembelajaran memanfaatkan TIK adalah solusi terbaik, adapun tiga hal yang harus diwujudkan, yaitu: 1. Peserta didik dan guru harus memiliki akses teknologi digital di dalam lingkungan lembaga pendidikan. 2. Adanya materi yang berkualitas dan bermanfaat bagi guru dan peserta didik. 3. Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan media-media pembelajaran digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik dan mengembangkan potensinya.
RUMUSAN MASALAH
- Kendala Pemanfaatan TIK dalam Dunia Pendidikan; dan
- Upaya Menerapkan TIK dalam Dunia Pendidikan
TUJUAN
- Mengetahui apa-apa saja kendala yang akan di hadapi dalam dunia pendidikan dengan adanya TIK, dan
- Mampu menemukan upaya-upaya untuk menerapkan TIK dalam dunia pendidikan.
- Kendala Pemanfaatan TIK dalam Dunia Pendidikan
Pada saat ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memegang peranan yang penting dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Salah satu penerapan TIK dalam bidang pendidikan antara lain pemanfaatan sarana multimedia dan media Internet dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan sarana multimedia dalam proses pembelajaran diwujudkan melalui modul-modul pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik minat pembelajar, misalnya penggunaan flash, adanya penjelasan melalui media suara/ audio dan penambahan fitur-fitur yang dapat meningkatkan partisipasi aktif dari pembelajar. Sedangkan dengan pemanfaatan media Internet dalam proses pembelajaran diharapkan akan mempermudah pembelajar dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sehingga diharapkan pembelajar akan aktif mencari informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan.
Namun pada kenyataannya, penerapan TIK dalam bidang pendidikan di Indonesia masih dalam tahap awal dan masih belum termanfaatkan secara maksimal. Kendala-kendala penerapan TIK di bidang pendidikan antara lain disebabkan oleh :
Belum meratanya infrastuktur yang mendukung penerapan TIK di bidang pendidikan merupakan permasalahan awal yang harus segera diselesaikan oleh pihak yang berwenang, karena tanpa adanya infrastruktur yang mendukung maka penerapan TIK di bidang pendidikan hanya akan menjadi impian semata. Infrastruktur merupakan komponen yang sangat penting yang berfungsi sebagai modal awal dan utama dalam penerapan TIK di bidang pendidikan. Pada saat ini, terdapat kecenderungan bahwa hanya daerah tertentu saja yang mendapatkan akses TIK. Hal ini dikarenakan masih banyak daerah yang bahkan untuk memilki akses telepon saja tidak ada, apalagi untuk akses terhadap Internet. Padahal sesungguhnya banyak sekali potensi sumber daya manusia unggul yang dimiliki oleh daerah tersebut. Jika hal ini terus berlangsung seperti ini maka dikhawatirkan bahwa potensi sumber daya manusia yang dimiliki daerah tersebut akan terbuang dengan percuma dan tidak dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya.
Kendala lainnya yang perlu diselesaikan adalah ketidaksiapaan sumber daya manusia untuk memanfaatkan TIK dalam proses pembelajaran. Ketidaksiapan ini dikarenakan pola kebiasaan pembelajaran yang masih belum menganggap penting peranan TIK dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka cenderung sudah merasa puas akan materi yang telah diberikan oleh pengajar secara langsung, sehingga menyebabkan mereka tidak mau/ malas untuk mencari informasi tambahan yang ada di Internet walaupun sarana dan infrastruktur sudah mendukung dalam penerapan TIK. Terkadang kendala ini jauh lebih susah untuk dipecahkan daripada tidak adanya infrastruktur yang mendukung TIK, hal ini karena biasanya lebih susah untuk mengubah pola tingkah laku/ kebiasaan dari seseorang. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari setiap individu pembelajar untuk memanfaatkan dan menerapkan TIK dalam metode pembelajarannya.
Hambatan-hambatan pengintegrasian TIK dalam pembelajaran, dapat disimpulkan dengan dua kelompok, yaitu :
- Secara Fisik
Secaca fisik dapat berupa sarana dan prasarana yang belum memadai terutama untuk sekolah-sekolah yang berlokasi di pelosok. kalaupun sudah ada sarana dan prasarana, tetapi masih sangat minim baik dari segi jumlah maupun segi mutu peralatan tersebut.Masih digunakannya perangkat multimedia bekas di lembaga-lembaga pendidikan yang terdapat di daerah pedesaan. Perangkat multimedia bekas ini tentunya masih menggunakan spesifikasi yang sudah tertinggal jamannya. Sehingga penggunaannya tidak mampu bersaing dengan laju perkembangan TIK yang begitu pesat.
2. Secara Non-fisik
- Kepercayaan diri guru kurang dalam menggunakan TIK dalam melaksanakan proses PBM. Guru takut gagal mengajar melalui penggunaan TIK yang saat ini sangat disarankan. Walaupun penggunaannya ICT dalam proses pembelajarn sangat disarankan oleh para ahli.
- Kurangnya kompetensi guru, yang dimaksud disini adalah kurangnya kompetensi guru dalam mengintegrasikan TIK kedalam pedagogis praktek, yaitu tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan komputer dan tidak antusias tentang perubahan dan integrasi dengan belajar yang menggunakan computer dalam kelas mereka.
- Sikap guru dan resistensi yang melekat terhadap perubahan. Sikap dan resistensi guru untuk mengubah tentang penggunaan strategi baru yaitu dengan integrasi TIK dalam PBM. Hal ini dimaksudkan dengan sikap guru bahwa penggunaan TIK dalam PBM tidak memiliki mamfaat atau keuntungan yang jelas.
Dalam Era Teknologi, Informasi, dan Komonikasi (TIK) atau Information, Comunications, and Technology (ICT), pada saat ini ICT di kelas sangat penting untuk memberikan kesempatan bagi keberhasilan belajar siswa pada era tahun informasi saat ini. Dengan menggunakan ICT maka hambatan dalam pembelajaran dapat teratasi.
Temuan menunjukkan bahwa guru memiliki keinginan yang kuat untuk mengintegrasikan TIK ke dalam pendidikan, tapi itu, mereka menemui banyak hambatan. Hambatan utama adalah :
- Kurangnya confidence,/ kepercayaan.
- Kurangnya kompetensi.
- Kurangnya akses ke sumber daya.
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian penting dari kebanyakan organisasi dan bisnis. Komputer mulai ditempatkan di sekolah-sekolah pada awal 1980 an, dan beberapa peneliti menunjukkan bahwa ICT merupakan bagian penting dari pendidikan untuk generasi berikutnya. Teknologi modern (ICT) banyak menawarkan di dunia pendidikan, yakni :
- Meningkatkan pengajaran dan pembelajaran di kelas,
- Pandangan bahwa teknologi baru potensi untuk mendukung pendidikan di seluruh kurikulum, dan
- Memberikan kesempatan untuk komunikasi yang efektif antara guru dan siswa dengan cara yang belum mungkin dilakukan sebelumnya.
Upaya Menerapkan TIK dalam Dunia Pendidikan
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang sekaligus berfungsi sebagai prasyarat keberhasilan penerapan TIK dalam pembelajaran. Menurut Mahmud (2008:13) dalam bukunya yang berjudul ICT Untuk Sekolah Unggul, terdapat beberapa persyaratan agar dapat menerapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, yaitu tersedianya sarana prasarana yang menunjang pembelajaran berbasis TIK. Lebih lanjut dijelaskan dalam (http://ict.dinpendikpkp.go.id) beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam menerapkan pembelajaran berbasis TIK adalah:
- Pembelajar dan Pengajar harus memiliki akses terhadap teknologi digital dan Internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan. Ini berarti sekolah harus memiliki sarana prasarana yang memadai yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi, seperti tersedianya komputer/laptop, jaringan komputer, internet, laboratorium komputer, peralatan multimedia seperti CD, DVD, Web Camera dan lain-lain.
- Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi pembelajar dan pengajar. Materi-materi itu dapat berupa materi pembelajaran interaktif yang berbantuan komputer, seperti CD, DVD Pembelajaran Interaktif.
- Pengajar harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu pembelajar agar mencapai standar akademik.
- Harus tersedia anggaran atau dana yang cukup untuk mengadakan, mengembangkan dan merawat sarana prasarana Teknologi Informasi dan Komunikasi tersebut.
- Dan yang tak kalah penting adalah, adanya kemauan dari semua pihak, dalam hal ini guru dan peserta didik untuk menerapkan pembelajaran dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi tersebut.
KESIMPULAN
Dari penjelasan yang telah dipaparkan, dapat kita tarik kesimpulan bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membawa pengaruh yang begitu besar bagi setiap aspek kehidupan, terutama pendidikan. Kekurangan dan hambatan yang ada dalam proses pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan perkembangan TIK.
Seperti yang disebutkan dalam bagian pertama pembahasan, yaitu arti TIK bagi dunia pendidikan berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun, kenyataannya di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan TIK. Hal ini disebabkan adanya berbagai kendala yang ada dalam usaha pemanfaatan TIK di dunia pendidikan Indonesia. Hal ini membuktikan ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Amerika dan Cina. Di negara tersebut, penggunaan TIK dalam proses pembelajaran sudah merupakan hal yang lazim.
Oleh sebab itu, kita bersama-sama dengan pemerintah dan pihak lainnya harus saling bahu-membahu dalam penyelenggaraan pemanfaatan TIK di dunia pendidikan Indonesia. Karena teknologi informasi dan komunikasi menjadi kunci untuk menuju sekolah masa depan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
T.I.K/Kendala Penerapan TIK di Bidang Pendidikan by Harry B. Santoso and Engineering Education.html
T.I.K/pemanfaatan-tik-dalam-dunia-pendidikan.html
T.I.K/hambatan-dalam-pemanfaatan-tik-pada.html
T.I.K/hambatan-pemanfaatan-tik-untuk.html
http://www.zonasiswa.com/2014/10/pengertian-teknologi-informasi-dan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Internet
http://fileblogku.blogspot.com/2010/11/email-adalah.html
http://sari-rahmadhanixi.blogspot.com/2011/11/pengertian-chatting.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Buku_elektronik
http://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan_digital
http://id.wikipedia.org/wiki/Digital
http://solusikompi.blogspot.com/2014/08/pengertian-dan-fungsi-webcam.html
http://komputer.yn.lt/adalah/?arti=Flash
http://tridayanti123.blogspot.com/2013/03/pengertian-cddvdvcd.html
Kumpulan Artikel
- video kelompok 4
- Cara Membuat dan Mengedit Video Menggunakan Movie Maker
- Video Kelompok 4
- Kendala Implementasi TIK Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia
- Kumpulan Artikel
- Projects: Non-formal Education
- Perbedaan Web 0.1, Web 0.2, Web 0.3
- Strategi Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (National ICT Strategies) 2010 – 2014
- Permen Guru TIK dan KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013
- NASKAH AKADEMIK KURIKULUM MASA DEPAN MATAPELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
- 21st Century Skills (kelompok 4)
- Projects: Non-formal Education (TUGAS KELOMPOK 4 RESUME UNESCO)
Projects: Non-formal Education
Projects: Non-formal Education
Recognizing the potential of ICT to transform the teaching-learning process in the Non-Formal Education context, as well as its potential in changing the way educators and learners gain access to knowledge and information, the ICT in Education programme has implemented a number of projects which focus on using ICT to enhance the reach and quality of teaching and learning in the NFE context. Such projects have the ultimate aim of assisting learners in expanding their livelihood opportunities and in enabling them to improve their quality of life.
While more children are going to school than ever before, many drop out before grade five of primary school or graduate without mastering even a minimum set of literacy skills. In many countries of the Asia-Pacific region there is a lack of coordination and support for the education of these children who drop out of school, and little provision of literacy and continuing education for youth and adults.
In view of this situation, UNESCO’s Asia-Pacific Programme of Education for All (APPEAL) supports Member States in their efforts to systematize non-formal education (NFE), and assists them through training personnel and developing learning materials for NFE.
Since the late 1990s, APPEAL has also been promoting the concept of Community Learning Centres (CLCs) for generating grassroots-based interest and participation in literacy, basic education and continuing education activities for disadvantaged people.
Projects which focus on the use of ICT in non-formal education, that have been implemented as part of the UNESCO ICT in Education programme include:
ICT Applications for Non-Formal Education
This project aims to improve quality of life and alleviate poverty among disadvantaged rural populations through greater access to context-specific education programmes using ICT.
The “ICT Applications for Non-Formal Education” project explores effective ICT use in non-formal education (NFE), delivered through Community Learning Centres (CLCs).
The project aims to support community empowerment. A key component of the project is the compilation and delivery of relevant NFE resource materials – both in print form and through ICT (DVD, CD-ROM, online, etc).
The project also aims to encourage information sharing and evidence based policy dialogues at the national and regional levels.
In the first phase of the project, 2003 – 2004, five countries participated, namely, Indonesia, Lao PDR, Sri Lanka, Thailand and Uzbekistan. The second phase, which commenced in June 2004, includes China, India, Iran, Philippines and Viet Nam.
Silk Road Radio Project
Using the more traditional technology of radio to reach large audiences in innovative and engaging ways, the Silk Road Radio Project in Tajikistan-Uzbekistan highlights contemporary issues and priorities through a twice-weekly radio drama series, produced and transmitted in both Uzbek and Tajik languages.
http://www.unescobkk.org/education/ict/ict-in-education-projects/non-formal-education
PROYEK : PENDIDIKAN NON-FORMAL
Menyadari potensi ICT untuk mengubah proses belajar-mengajar dalam konteks Pendidikan Non-Formal,serta potensi dalam mengubah cara pendidik dan peserta didik mendapatkan akses pengetahuan dan informasi, ICT dalam program Pendidikan telah menerapkan sejumlah proyek yang berfokus pada menggunakan ICT untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas pengajaran dan pembelajaran dalam konteks pendidikan non formal. Proyek-proyek tersebut memiliki tujuan akhir membantu peserta didik dalam memperluas peluang mata pencaharian mereka dan memungkinkan mereka untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Sementara anak-anak lebih banyak pergi ke sekolah daripada sebelumnya ,banyak putus sekolah sebelum kelas lima sekolah dasar atau lulus tanpa menguasai bahkan satu set minimal keterampilan keaksaraan. Di banyak negara di kawasan Asia-Pasifik ada kurangnya koordinasi dan dukungan untuk pendidikan anak-anak ini yang putus sekolah, dan sedikit penyediaan melek huruf dan pendidikan berkelanjutan bagi pemuda dan orang dewasa .
Dalam situasi ini,UNESCO Asia-Pacific Program Pendidikan untuk Semua mendukung negara-negara anggota dalam upaya mereka untuk sistematisasi pendidikan non-formal (NFE), dan membantu mereka melalui pelatihan personil dan mengembangkan materi pembelajaran untuk pendidikan non formal .
Sejak 1990-an,sudah menjadi bahan pertimbangan mempromosikan konsep Pusat Belajar Masyarakat(CLC)untuk menghasilkan kepentingan berbasis peningkatan minat dan partisipasi dalam keaksaraan, pendidikan dasar dan melanjutkan kegiatan pendidikan bagi orang-orang yang kurang beruntung .
Proyek yang berfokus pada penggunaan ICT dalam pendidikan non-formal, yang telah dilaksanakan sebagai bagian dari ICT UNESCO dalam program Pendidikan meliputi :
- Penerapan TIK untuk Pendidikan Non–Formal
Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi kemiskinan di kalangan penduduk pedesaan yang kurang beruntung melalui akses yang lebih besar untuk program pendidikan-konteks tertentu menggunakan ICT.
ICT merupakan Aplikasi untuk Pendidikan Non-Formal”proyek mengeksplorasi penggunaan TIK yang efektif dalam pendidikan non-formal(NFE), disampaikan melalui Pusat Pembelajaran Masyarakat atau Community Learning Centres (CLC).
Proyek ini bertujuan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat. Komponen utama dari proyek ini adalah kompilasi dan pengiriman bahan sumber daya pendidikan non formal yang relevan-baik dalam bentuk cetak dan melalui ICT ( DVD,CD-ROM ,online,dll).
Proyek ini juga bertujuan untuk mendorong dialog kebijakan berbagi informasi dan bukti berdasarkan pada tingkat nasional dan regional .
Pada tahap pertama proyek,2003-2004,lima negara berpartisipasi,yaitu Indonesia,Laos,SriLanka, Thailand dan Uzbekistan.Tahap kedua,yang dimulai pada bulan Juni 2004,termasuk China,India,Iran,Filipina, dan Vietnam.
- Proyek Silk Road Radio
Menggunakan teknologi yang lebih tradisional radio untuk menjangkau audiens yang besar dalam cara-cara inovatif dan menarik , Proyek Radio Silk Road di Tajikistan-Uzbekistan menyoroti isu-isu kontemporer dan prioritas melalui serangkaian drama radio dua kali seminggu,diproduksi dan ditransmisikan dalam kedua Uzbek dan Tajik bahasa .
http://www.unescobkk.org/education/ict/ict-in-education-projects/non-formal-education
Ulasan
PROYEK PENDIDIKAN NON-FORMAL
Berdasarkan data UNESCO kawasan Asia-Pasifik sejak tahun 1990-an sudah mulai memikirkan bagaimana proses belajar mengajar dalam pendidikan formal yang efektif melalui penggunaan ICT. Proyek UNESCO penggunaan ICT dalam pendidikan Non-formal dikawasan Asia-PasifiK sudah berjalan sejak tahun 2003 dimana beberapa Negara telah berpartisipasi diantaranya Indonesia, Laos, Srilangka, Thailand,dan Usbekistan pada tahap pertama. Sesuai dengan sedangkan untuk tahap kedua dimulai pada bulan Juni tahun 2004 negara ikut berpartisipasi telah bertambah lagi seperti China, India, Iran, Filipina dan Vietnam.
Penggunaan ICT mempermudah mengakses pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran dalam konteks pendidikan non-formal, yang Pada ahirnya dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan.
Proyek ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi kemiskinan dikalangan penduduk pedesaan yang kurang beruntung melalaui akses yang lebih besar pada program pendidikan tertentu menggunakan ICT.
Perbedaan Web 0.1, Web 0.2, Web 0.3
Perbedaan web 0.1, 0.2 sampai 0.3
Web 0.1, 0.2 sampai 0.3
Web adalah sebuah system yang menyalurkan ide-ide mengenai informasi berupa tulisan, gambar , video, suara dan multimedia lainnya yang dapat diakses keseluruh penjuru dunia dengan web browser melalui koneksi internet.
Web 1.0
Web versi 1.0 merupakan generasi pertama dari sebuah website, dimana pada generasi ini website hanya bersifat statis atau satu arah. Jadi pembuat website ini hanya memberikan informasi dan penikmat website sebagai pembaca, tidak ada komunikasi langsung antara pembuat dan penikmat website. Jika diandaikan pada generasi web 1.0 seperti seseorang yang membaca Koran atau majalah hanya dapat membacanya tidak dapat berkomentar secara langsung. Halaman pada web 1.0 masih terkesan sederhana dan bahasa yang digunakan hanya html ,css dan javascript dasar.
Web 1.0 secara umum dikembangkan untuk pengaksesan informasi dan memiliki sifat yang sedikit interaktif. Sifat dari web 1.0 adalah read. Ciri-ciri umum yang mencolok yaitu consult, surf dan search. Jadi web 1.0 hanya digunakan untuk browsing atau mencari informasi tertentu. Beberapa ciri khas dari web 1.0 antara lain :
- Halaman statis
- Penggunaan framesets
- Online Guestbook
- GIF tombol
Berbagai Website seperti situs berita “cnn.com” atau situs belanja “Bhinneka.com” dapat dikategorikan ke dalam jenis ini.
Web 2.0
web 2.0 merupakan generasi selanjutnya dari web 1.0 dimulai sejak era 2005 sampai sekarang, Ciri khas adari era ini adalah user generated content dan jejaring social, dimana pada versi terbaru ini tidak lagi bersifat statis (satu arah) tetapi sudah bisa melakukan komunikasi dua arah. Dengan komunikasi 2 arah ini sangat membantu seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain diseluruh dunia dan membuat forum-forum untuk kepentingan tertentu. Pada web 2.0 juga sangat menarik tidak hanya berkomunikasi dua arah tetapi bisa berbagi data dan memberikan berbagai konten yang dapat diakses keseluruh dunia.User bukan hanya sebagai konsumen tetapi juga sebagai produsen informasi dalam istilah populer adalah user generated content. Sebagai contoh pada website youtube kita tidak hanya dapat melihat video streaming tetapi juga bisa membuat akun dan nge-share video streaming sebagai informasi yang diberikan oleh user.
Web 2.0 Istilah Web 2.0 pertama kalinya diperkenalkan oleh O’Reilly Media pada tahun 2004 sebagai teknologi Web generasi kedua yang mengedepankan kolaborasi dan sharing informasi secara online. Menurut Tim O’Reilly, Web 2.0 dapat didefinisikan sebagai berikut: “Web 2.0 adalah revolusi bisnis di industri komputer yang disebabkan oleh penggunaan internet sebagai platform, dan merupakan suatu percobaan untuk memahami berbagai aturan untuk mencapai keberhasilan pada platform baru tersebut. Salah satu aturan terutama adalah: Membangun aplikasi yang mengeksploitasi efek jaringan untuk mendapatkan lebih banyak lagi pengguna aplikasi tersebut” Berbagai layanan berbasis web seperti jejaring sosial, wiki dan folksonomies (misalnya: “flickr.com”, “del.icio.us”) merupakan teknologi Web 2.0 yang menambah interaktifitas di antara para pengguna Web.
Pada umumnya, Website yang dibangun dengan menggunakan teknologi Web 2.0 memiliki fitur-fitur sebagai berikut:
- CSS (Cascading Style Sheets)
- Aplikasi Rich Internet atau berbasis Ajax
- Markup XHTML
- Sindikasi dan agregasi data menggunakan RSS/Atom
- URL yang valid
- Folksonomies
- Aplikasi wiki pada sebagian atau seluruh Website
- XML Web-Service API
Web 3.0
Web 3.0 merupakan generasi selanjutnya dari web 1.0 dan web 2.0. Pada generasi ini biasanya disebut semantic web yang merupakan sekumpulan teknologi yang memberikan cara baru yang lebih efisien dalam membantu mengorganisasi dan menarik kesimpulan dari data online. Jadi pada Semantic Web memiliki tujuan yang tidak hanya diekpresikan di dalam bahasa alami yang dimengerti manusia, tetapi juga di dalam bentuk yang dapat dimengerti, diinterpretasi dan digunakan oleh perangkat lunak (software agents). Melalui Semantic Web inilah, berbagai perangkat lunak akan mampu mencari, membagi, dan mengintegrasikan informasi dengan cara yang lebih mudah dan mendapatkan informasi secara cepat dan tepat. Contoh dari penggunaan dari semantic web adalah Knowledge graph di Google Search. Natural language prosesing. Perintah menggunakan suara. Contohnya adalah Siri, Voice Action Android atau Voice search di Google, Location based service dan personifikasi informasi. Web tidak lagi memberikan informasi, namun solusi. Contoh layanan ini adalah Layar dan Google Now. Komputer (dan web) yang bisa dipakai , Contoh dari produk ini adalah Google glass.
Pada generasi ini Web semakin menarik dengan adanya kemampuan visual 3D. Tanpa harus meninggalkan rumah maka kita dapat mengunjungi berbagai tempat di dunia lain secara virtual dengan kemampuan akses data dan interaksi secara realtime. Keyword bukan lagi satu-satunya cara untuk mendapatkan informasi yang dituju. Photo, audio, video akan menjadi cara lain untuk mencari informasi yang kita inginkan. Web akan dengan mudah diakses dengan berbagai cara dan alat berbeda. Intinya everywhere, anytime dapat akses web. Sementara kemudahan koneksi akan semakin berkembang, berbagai alat-alat elektronika akan mendukung upaya kemudahan koneksi internet.
Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi teknologi yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.
Ciri khas dari generasi web 3.0 dari generasi web sebelumnya :
- ubiquitous connectivity, memungkinkan data atau informasi diakses di berbagai media.
- open technologies, sebagian besar semuanya berjalan dalam platform open source / free, jadi setiap orang dapat mengakses secara gratis.
- open identity, OpenID, seluruh info dapat diakses bebas dan sebebas – bebasnya sesuai dengan izin pengguna ID
- the intelligent web, Semantic Web technologies such as RDF, OWL, SWRL, SPARQL, GRDDL, semantic application platforms, and statement-based datastores;
- distributed databases, database terdistribusi dalam WWD ( World Wide Database ) dengan kapasitas database sangat besar yang mampu menyimpan data dari seluruh dunia.
- intelligent applications, menggunakan aplikasi yang pintar dan mempermudah dalam menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat.
Walaupun masih dalam perdebatan di kalangan analis dan peneliti, istilah Web 3.0 tetap berpotensi menjadi generasi teknologi di dunia Internet. Saat ini, definisi untuk Web 3.0 sangat beragam mulai dari pengaksesan broadband secara mobile sampai kepada layanan Web berisikan perangkat lunak bersifat on-demand. Namun, menurut John Markoff, Web 3.0 adalah sekumpulan teknologi yang menawarkan cara baru yang efisien dalam membantu komputer mengorganisasi dan menarik kesimpulan dari data online.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan tersebut, maka pada dasarnya Semantic Web memiliki tujuan yang sama karena Semantic Web memiliki isi Web yang tidak dapat hanya diekpresikan di dalam bahasa alami yang dimengerti manusia, tetapi juga di dalam bentuk yang dapat dimengerti, diinterpretasi dan digunakan oleh perangkat lunak (software agents). Melalui Semantic Web inilah, berbagai perangkat lunak akan mampu mencari, membagi, dan mengintegrasikan informasi dengan cara yang lebih mudah.
Pembuatan Semantic Web dimungkinkan dengan adanya sekumpulan standar yang dikoordinasi oleh World Wide Web Consortium (W3C). Standar yang paling penting dalam membangun Semantic Web adalah XML, XML Schema, RDF, OWL, dan SPARQL.
Mungkin ini beberapa referensi ciri khas dari web 3.0
- Transformation dari tmp penyimpanan yang bersifat terpisah pisah menjadi satu.
- Ubiquitous connectivity, memungkinkan info diakses di berbagai media.
- Network computing, software-as-a-service business models, Web services interoperability, distributed computing, grid computing and
cloud computing; - Open technologies, sebagian besar semuanya berjalan dalam platform open source / free.
- Open identity, OpenID, seluruh info adalah bebas dan sebebas – bebasnya.
- The intelligent web, Semantic Web technologies such as RDF, OWL, SWRL, SPARQL, GRDDL, semantic application platforms, and statement-
based datastores; - Distributed databases, database terdistribusi dalam WWD ( World Wide Database ).
- Intelligent applications.
TABEL PERBEDAAN ANTARA WEB 1.0, WEB 2.0, DAN WEB 3.0
| WEB 1.0 | WEB 2.O | WEB 3.0 |
| dirancang untuk mengakses infromasi yang interaksinya hanya satu arah |
dirancang untuk mengakses informasi dengan interaksi dua arah | Aplikasi – aplikasi online dalam website dapat saling berinteraksi |
| memiliki sifat Read | Bersifat Write and Read | Visual Berbasis 3D |
| Bersifat interaktif | Internet sebagai platform | adanya web service |
| mengharuskan pengguna internet untuk datang ke dalam website tersebut dan melihat satu persatu konten di dalamnya | pengguna internet dapat melihat konten suatu website tanpa harus berkunjung ke alamat situs yang bersangkutan | terjadi konvergensi yang sangat dekat antara dunia TI dengan dunia telekomunikasi |
| Pelaku utama Perusahaan yang memiliki web saja | Pelaku utama Perusahaan, dan Pengguna/Komunitas | membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi komputer yang agak tinggi |
| Sumber konten Penerbit/pemilik situs Pengguna | Kemampuan dalam melakukan aktivitas drag and drop, auto complete, chat, voice dapat dilakukan layaknya aplikasi desktop | Dapat mengakses internet melalui gadget lain selain komputer |
Strategi Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (National ICT Strategies) 2010 – 2014
Strategi Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (National ICT Strategies) 2010 – 2014
oleh : Uza Sukmana
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pendidikan mutlak dilakukan untuk menjawab permasalahan di bidang pendidikan terutama akses dan pemerataan serta mutu pendidikan. Kebijakan dan standarisasi mutu pendidikan menjadi fondasi yang harus dibangun untuk mendukung pendidikan berbasis TIK yang efektif dan efisien. Implementasi pendidikan berbasis TIK dapat dilakukan melalui model dua sistem yang mengkombinasikan pembelajaran klasikal dengan belajar terbuka dan jarak jauh (on line). Sedangkan pembelajaran berbasis TIK dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. Hal ini tergantung dengan kondisi teknologi dan jaringan yang tersedia. Disamping itu standarisasi dalam pemanfaatan TIK dalam pendidikan sangat penting untuk menjamin mutu proses dan hasil pendidikan.
Perkembangan TIK di Indonesia belum optimal dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Terdapat beberapa masalah dan kendala yang dirasakan oleh masyarakat khususnya tenaga pendidik dan profesional pendidik untuk memanfaatkan TIK di berbagai jenjang pendidikan baik formal maupun non formal. Permasalahan tersebut terutama berkaitan dengan kebijakan, standarisasi, infrastruktur, jaringan, konten, kesiapan dan kultur sumber daya manusia di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, berbagai upaya yang telah dilakukan baik pemerintah maupun masyarakat dalam rangka pemanfaatan TIK dalam pendidikan, wajib dilakukan secara terintegrasi, sistematis, dan berkelanjutan.
Berkenaan dengan hal yang di atas, beberapa saran yang dapat saya kemukakan untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan pendidikan berbasis TIK di Indonesia adalah sebagai berikut:
- Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pendidikan baik di sekolah atau perguruan tinggi menjadi hal muthlak mengingat kondisi permasalahan pendidikan yang makin kompleks. Pendidikan berbasis TIK hanya akan berhasil apabila dikelola dan ditangani dengan terencana, sistematis, dan terintegrasi.
- Perencanaan dalam pemanfaatan TIK dalam pendidikan yang integratif meliputi kebijakan standarisasi mutu, infrastruktur jaringan dan konten, kesiapan dan kultur SDM pendidikan menjadi penting untuk ditata dan dikelola dengan efektif dan efisien.
- Penyelenggaraan pendidikan berbasis TIK melalui pendidikan terbuka dan jarak jauh (e-learning) membutuhkan dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah, swasta, serta masyarakat untuk mengalokasikan anggaran dan investasi pendidikan yang memadai.
- Standarisasi mutu penyelenggaraan pendidikan berbasis TIK perlu ditindak lanjuti dengan standarisasi konten untuk menjamin kualitas, dan akuntabilitas program pendidikan berbasis TIK.
Permen Guru TIK dan KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013
Permen Guru TIK dan KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013
oleh : Uza Sukmana
Peran guru TIK dan KKPI menjadi lebih jelas di Kurikulum 2013 dengan disahkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2014 Tentang Peran Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi dalam Implementasi Kurikulum 2013. Guru TIK dan guru KKPI dalam pelaksanaan kurikulum 2013 difungsikan menjadi Guru TIK. Guru TIK berkewajiban: membimbing peserta didik SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat untuk mencari, mengolah, menyimpan, menyajikan, serta menyebarkan data dan informasi dalam berbagai cara untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran, persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran dan mengembangkan sistem manajemen sekolah berbasis TIK.
Beban kerja guru TIK melakukan pembimbingan paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada 1 (satu) atau lebih satuan pendidikan. Bimbingan dilaksanakan secara: klasikal atau kelompok belajar, dan/atau individual. Guru TIK memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan pembimbingan dan pelayanan TIK terhadap peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. Guru TIK melaksanakan layanan bimbingan TIK kepada sesama guru pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat dalam rangka:
Pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran; persiapan pembelajaran; proses pembelajaran; penilaian pembelajaran; danpelaporan hasil belajar. Selain itu guru TIK juga memfasilitasi guru-guru dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem manajemen sekolah. Rincian kegiatan guru TIK dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai berikut:
Menyusun rancangan pelaksanaan layanan dan bimbingan TIK; melaksanakan layanan dan bimbingan TIK per tahun; menyusun alat ukur/lembar kerja program layanan dan bimbingan TIK; mengevaluasi proses dan hasil layanan dan bimbingan TIK; menganalisis hasil layanan dan bimbingan TIK; melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi dengan memperbaiki layanan dan bimbingan TIK; menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional; membimbing peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler ; membimbing guru dalam penggunaan TIK; membimbing tenaga kependidikan dalam penggunaan TIK; melaksanakan pengembangan diri; dan melaksanakan publikasi ilmiah dan/atau membuat karya inovatif.
NASKAH AKADEMIK KURIKULUM MASA DEPAN MATAPELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
NASKAH AKADEMIK KURIKULUM MASA DEPAN MATAPELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
Penyusunan kurikulum masa depan Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan sebuah konteks menyongsong dunia pendidikan di era globalisasi. Kurikulum masa depan ini menggambarkan bagaimana proses pendidikan ditingkat dasar dan menengah dilihat dari konsep, isi, strategi, implementasi dan faktor pendukung lainnya. Berbagai keadaan menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu mendayagunakan potensi ICT secara baik, dan oleh karena itu Indonesia terancam digital divice (kesenjangan digital) yang semakin tertinggal terhadap negara-negara maju. Selain itu pemanfaatan ICT belum efektif dan efisien di pemerintahan maupun pelayanan publik. Padahal tata kelola pemerintahan Indonesia saat ini membutuhkan suatu sistem yang baik atau sering disebut Good Corparate Governance atau Good Govermant. ICT dapat diperankan sebagai enabler dalam konteks pembangunan pemerintah yang bersih, transparan dan dapatv dipertanggungjawabkan. Konsep pemerintahan yang rumit dapat dimodelkan dengan teknologi dan sistem informasi yang sistematis. Penerapan dan pengembangan mata pelajaran TIK di sekolah adalah salah satu langkah strategis dalam menyongsong masa depan pendidikan Indonesia. Kurikulum masa depan TIK bukan sekedar mengikuti trend global melainkan merupakan suatu langkah strategis didalam meningkatkan aksesdan mutu layanan pendidikan kepada masyarakat. Secara geografis dan sosial ekonomi Indonesia penerapan dan pengembangan kurikulum TIK akan menjadi tulang punggung sistem pendidikan masa yang akan datang. Sudah barang tentu semua ini harus diikuti kesiapan seluruh komponen sumber daya manusia baik dalam cara berfikir, orientasi perilaku, sikap dan sistem yang mendukung pengembangan kurikulum TIK untuk kemaslahatan manusia. Peranan TIK untuk pendidikan : 1. TIK sebagai keterampilan (skill) dan kompetensi 2. TIK sebagai infrastruktur pembelajaran 3. TIK sebagai sumber bahan belajar 4. TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran 5. TIK sebagai pendukung manajemen pembelajaran 6. TIK sebagai sitem pendukung keputusan Karakteristiknya : 1) memerlukan kemampuan intelektual, 2) berupa tema-tema esensial, aktual dan global, 3) berkaitan dengan kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri dari zaman/abad 21 dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, 4) menggunakan pendekatan interdisipliner dan multidimensional. Disamping itu dibutuhkan juga para pengajar TIK yang profesional dengan mengadakan pendidikan khusus atau tambahan pengalaman untuk memenuhi standar pengajaran TIK yang baik. Strategi implementasi kurikulum dengan memebentuk struktur yang sistematis dalam penyusunan kurikulum terkait dengan visi/target yang kemudian dikelompokkan kedalam beberapa kemampuan yaitu: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), analitis, inovatif, dan etik (etic).















